Langsung ke konten utama

Nona Menunggu (Sinar Harapan, Agustus 2015)



Nona Menunggu
Cerpen Novita Hidayani

     Alih-alih membawamu pergi berobat ke Surabaya, Jakarta, atau ke Singapura, aku justru menemukan obat termujarab untuk tidur panjangmu itu di sebuah rumah makan yang terkenal dengan bebalung kudanya. Di pinggiran kota Mataram, jalur terminal Swete, tepat di perbatasan Lombok Barat dan kota Mataram. Saat bertemu dengan seorang perempuan yang terkenal dengan julukan Si Nona Menunggu.
***
     Sayang, kau tahu? Aku telah melakukan berbagai cara untuk membuatmu terbangun. Menguras habis apa yang kita miliki untuk membawamu ke tempat pengobatan terbaik, tak peduli sejauh apapun itu, ke tempat-tempat yang tak masuk akal sekalipun, bahkan sampai melewati batasan agama kita dengan menggadaikan 40 hari shalatku. Aku yakin, kau tahu itu. Meski secara biologis tubuhmu tak mau terbangun dari tidur panjang yang melelahkan itu, tapi aku yakin kamu, dirimu yang jauh lebih utuh dari raga yang bekerja secara biologis itu, masih terjaga menyadari usahaku.
     Dan kau pasti juga tahu apa yang mereka minta padaku waktu itu. Eutanasia?! Mereka gila!
     Malam di mana orang tuamu sendiri yang meminta untuk mengakhiri hidupmu itu, aku begitu geram. Tak pernah kurasakan amarah seperti itu. Badanku terasa menggigil, panas hingga ke ubun-ubun, rahangku mengeras, tanganku terkepal ingin memukul apa saja yang ada di dekatku. Bagaimana mungkin aku mengakhiri hidup orang yang sangat kucintai?
Malam itulah aku kemudian bertemu dengan seseorang yang kemudian mengantarkanku pada si Nona Menunggu. Aku bertemu dengannya di kantin rumah sakit. Saat aku duduk, masih dengan amarah dan rasa putus asa, sambil meremas kaleng minuman yang telah kutandaskan isinya, laki-laki kurus dengan kulit putih pucat yang terlihat seumuran denganku itu duduk di sebelahku.
     “Kau tak mengenalku, tapi aku mengenalmu Bara. Oh, aku lupa, kau cukup terkenal di rumah sakit ini, yang sudah seperti rumahmu sendiri ini, hahaha, tujuh tahun heh?” Ia tergelak sendiri. Melihat wajah tirusnya dan mendengar suaranya entah mengapa sedikit bisa mendamaikanku. Sama sekali tidak menimbulkan perasaan risih. Seperti mendengar suara jangkrik dan kodok setelah hujan di malam saat kita masih saling mengasihi dulu. Jarang sekali menemukan orang dengan aura seperti itu.
     “Aku tahu kau sedang mengalami situasi yang sulit, kau sedang dihadapkan pada pilihan yang begitu pahit. Aku tak bisa membantumu apa-apa selain berempati.” Ia kemudian menepuk-nepuk pundakku pelan, seakan-akan ia telah berteman denganku sangat lama.
     “Tapi ini mungkin bisa sedikit meringankan perasaan sedih tak tertahankanmu itu.” Kedua matanya yang tampak serimbun jalanan pusuk yang selalu kita lewati saat pulang ke kampung halamanmu itu menatapku sungguh-sungguh.
     “Besok, kau pergilah ke Swete. Kau pasti tahu daerah pinggiran kota Mataram itu, tepat di perbatasan Lombok Barat dan Mataram. Di sana ada sebuah rumah makan yang terkenal dengan bebalung kudanya.  Biasanya pukul 10 pagi, kau akan bertemu dengan seorang perempuan yang terkenal dengan sebutan Nona Menunggu di sana.”
     “Nona Menunggu?”
     “Ya. Orang-orang menjulukinya Nona Menunggu tapi tak jelas apa atau siapa yang tengah ditunggu perempuan itu.”
***
     Jika kau tak tertidur, mungkin kau akan menertawakanku saat itu. Aku tahu, pergi mencari tahu apa yang tengah ditunggu seorang perempuan yang dijuluki nona menunggu itu tak bisa membuatmu terbangun. Tapi mungkin karena aku telah melakukan segala hal, benar-benar telah segalanya, dan aku berada pada titik di mana keputus asaan begitu terang menyilaukan, yang kemudian membawa langkahku mengunjungi Si Nona Menunggu. Mungkin bisa sebagai peringan perasaan sedih seperti yang dikatakan laki-laki itu, pikirku.
     Lalu keesokan harinya, aku izin pulang lebih cepat dari kantor hanya untuk pergi menemuinya. Ba’da zuhur, saat pertama kali sampai di rumah makan itu, mataku bisa langsung mengenalinya di antara ramainya pengunjung yang menyantap makan siang mereka. Hanya dia sosok yang tampak tengah menunggu.
     Perempuan itu belakangan kutahu berusia 47 tahun, kau pasti setuju denganku bahwa ia masih terlihat cantik untuk ukuran perempuan seusianya. Tubuhnya proporsional, dengan rambut lurus sebahu di mana beberapa uban terlihat malu-malu menyembul. Keramaian rumah makan dan suara deru kendaraan di luar sana sama sekali tidak mengusiknya. Aku mendekatinya dan meminta izin duduk di hadapannya.
     “Nona Menunggu tak pernah berbicara dengan siapapun, Pak. Seorang pelayan laki-laki yang terlihat masih muda menghampiriku dengan senyum, menyodorkan papan menu. Aku menatap Nona Menunggu, tapi pandangannya jauh ke luar jendela, menembus padi-padi menguning yang siap panen, menembus pohon-pohon kesturi yang berjejer, menembus langit biru yang terang benderang.
     “Bapak mau pesan apa? Selagi makan nanti, saya akan menceritakan tentang Nona Menunggu.”
     Aku tersenyum, lantas duduk di hadapan Nona Menunggu dan mengambil papan menu. Setelah memesan seporsi bebalung kuda dengan nasi dan semangkuk es campur, aku duduk dengan tidak sabar menatap Nona Menunggu yang masih memandang jauh ke luar jendela sambil sesekali membenarkan cara duduknya, sama sekali tak menghiraukan kehadiranku.
     Tak berapa lama, pelayan tadi datang dengan nampan pesananku. Dan cerita tentang Nona Menunggu pun dimulai, tepat saat pertama kali kuah bebalung kuda yang gurih itu menjalari lidahku. Aku merasa geli sendiri, apa Nona Menunggu memang dikomersialkan oleh rumah makan ini? Tapi apapun itu, aku sedikit antusias. 
     “Semua orang yang datang ke sini untuk mencari tahu apa atau siapa yang tengah ditunggu Nona Menunggu pasti menebak pertama kali bahwa ia tengah menunggu kekasihnya.” Pelayan itu menatapku, mencari pembenaran. Aku tertawa kecil mengiyakan, sambil terus menyendok mangkuk bebalungku.
     “Nona Menunggu sekarang berusia 47 tahun. Dia tinggal tak jauh dari sini. 25 Tahun yang lalu dia menikah dengan seorang sopir bus Lombok-Sumbawa yang sering makan siang di sini. Setelah dua tahun pernikahannya dan dikaruniai seorang putra, suaminya pada suatu perjalanan tak kunjung pulang. Benar memang, dulu, Nona Menunggu  pernah menunggu kekasihnya, yang tak lain adalah suaminya, hampir selama delapan tahun. Tapi pada akhirnya sebelum genap delapan tahun menunggu, suaminya pulang juga. Suaminya masih setia mendampinginya sampai sekarang. Jadi dia tak sedang menunggu kekasihnya.”
     “Sekembali suaminya yang ternyata telah mengalami kecelakaan sehingga membuatnya lumpuh, keluarga Nona Menunggu dihadapi oleh permasalahan ekonomi yang mencekik. Nona Menunggu tiba-tiba harus menjadi tulang punggung keluarganya. Maka Nona Menunggu menjadi penjual pelecing, urap-urap, weci, lupis, dan serabi keliling. Saban hari ia menaruh bakul besar yang berisi dagangannya di kepalanya dan berjalan ke kampung-kampung untuk menjajakannya. Nona Menunggu begitu gigih berdagang. Awalnya hanya sebagai pedagang keliling, lalu karena semakin banyak pembelinya, Nona Menunggu membuka warung di rumahnya. Pelan-pelan ia kemudian bisa membuka toko kecil-kecilan. Selama hampir lima tahun jatuh bangun berdagang, ia kemudian berhasil membeli tanah di pinggir jalan dan membuka toko besar. Jika Bapak lewat perempatan Bengkel itu, toko besar itulah milik Nona Menunggu. Bahkan lima tahun yang lalu, rumah makan ini telah menjadi miliknya. Jadi Nona Menunggu tidak sedang menunggu kesuksesannya.”
     “Jadi perempuan ini dijuluki Nona Menungu karena telah menunggu dalam jangka waktu yang lama dalam hidupnya?” tanyaku, sambil memikirkan, berarti tak lama lagi aku akan mendapatkan julukan Tuan Menunggu juga.
     “Bukan, Pak. Bisa saya lanjutkan?”
     “Baiklah.” Aku mulai tak sabar.
     “Lalu setelah menunggu suaminya selama hampir delapan tahun dan menunggu kesuksesannya selama lima tahun setelah jatuh bangun. Di usianya yang ke 38 tahun, Nona Menunggu harus kembali menunggu bije satu-satunya yang memilih kuliah di Pulau Jawa. Konon kata teman-temannya, bije Nona Menunggu begitu nakal, tidak serius kuliah, kerjaannya berfoya-foya, padahal sebelumnya ia begitu penurut dan alim. Nah, selama bertahun-tahun Nona Menunggu menunggu kedatangan anak lelakinya itu. Tapi di usianya yang ke 45 tahun, di hari pertama lebaran, anak laki-lakinya pulang juga, tak tanggung-tanggung memboyong istrinya yang cantik dan seorang cucu yang lucu untuk Nona Menunggu. Jadi, Nona Menunggu akhirnya mengakhiri penantian kedatangan anak semata wayangnya itu.”
     “Lantas apa yang sebenarnya tengah ditunggu Nona menunggu sekarang?” tanyaku tak sabar. Pelayan itu tersenyum lebar.
     “Sampai di sini, apa bapak masih belum bisa menebak apa atau siapa yang tengah ditunggu Nona Menunggu?” Ia balik bertanya. Aku menggeleng dengan ringan.
     “Baiklah kalau yang terakhir. Semua hal yang ditunggu oleh Nona Menunggu telah terpenuhi. Tak ada lagi yang ditunggunya. Jadi apa yang tengah ditunggu oleh Nona Menunggu, Pak?”
Aku meregangkan tubuhku “Apa?” tanyaku. Terlalu banyak hal yang tengah kupikirkan. Malas berpikir lebih tepatnya.
     “Banyak orang yang benci menunggu di dunia ini, padahal mereka tak sadar, memiliki sesuatu untuk ditungggu adalah hal yang berarti dalam hidup. Nona Menunggu tengah menunggu sesuatu untuk ditunggu, Pak…”
     Siang selalu panas membakar di tempat ini. Suara bus-bus dan  truk-truk besar yang sekiranya baru turun dari pelabuhan Lembar terdengar menderu melewati rumah makan ini. Getarnya terasa menyentuh telapak kaki. Begitu juga dengan getar yang dihasilkan oleh fakta yang baru saja kudengar.
     Kau tahu? Sungguh kau pasti tahu. Aku akan tetap menunggumu terbangun.

Kediri, 10 Juni 2015
Akarpohon Mataram

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wasiat Membunuh Bapak (Lombok Post, 8-Nov-2015)

Wasiat Membunuh Bapak Cerpen Novita Hidayani      Aku menyalakan keran pada wastafel, membasuh sebuah pisau. Sinar matahari pagi yang hangat terpantul berkilau. ***      “Bunuh bapakmu!”      Kali pertama mendengar itu aku tertawa. Sungguh terdengar seperti guyonan. Membuatku melepaskan genggaman tangannya yang hanya berupa selapis kulit putih pucat keriput dan tulang.      “Bunuh bapakmu!” Ibu mengulangi kata-katanya. Kedua matanya yang cekung menatapku tajam. Ada benci yang terlihat sangat mengerikan tertanam disana, yang akarnya merambat mengeraskan rahangnya yang biasa terlihat lembut. Aku menelan ludah. Tertawa. Berusaha tertawa tepatnya. Dan tawa itu terdengar mengerikan diterbangkan angin kering bulan Juli yang masuk melewati jendela ruangan sempit berukuran 3 x 4 meter ini.      “Aku akan mati segera. Bunuh bapakmu! Itu permintaan terakhirku. Wasiat. Bagaim...

2 Hari Bareng Eva Celia

It was such an amazing experience! Satu kalimat yang mewakili dua hari jadi LOnya Eva Celia untuk Konser Senggigi Sunset Jazz Festival yang diadain di Lombok, tanggal 9 Desember kemaren. Awalnya surprise banget waktu suatu hari, tiba2 dapet whatsapp dari Mbak Githa, "Mau gak jadi LOnya Eva Celia?" Oh my God!!! Can you imagine my feeling? Saya yang biasanya kalo gabut di kantor suka streaming lagunya Eva Celia dan Ayahnya Indra Lesmana, tiba-tiba diminta jadi LOnya. Wah! Ini hidup kok ajaib banget ya.. Kira2 gitu deh suara hati saya sambil jingkrak-jingkrak saking bahagianya. Jujur di awal, saya gawah banget gak tau apa itu jadi LO artist lol. Trus langsung aja gitu search di google baca-baca artikel di blog orang-orang yang pernah punya pengalaman jadi LO artis. Kalau kata tante Wikipedia sih, LO atau Liaison officer adalah seseorang yang bertugas menghubungkan dua lembaga untuk berkomunisasi dan berkoordinasi mengenai kegiatan antarlembaga. Tapi menurut hemat saya s...

Lihat ke dalam Mata Mereka (Korban Gempa Lombok 7 sr)

(Bu Fajariah bersama Putranya Muhammad Jaelani masih diselimuti duka atas kematian Putra sulungnya yang menjadi korban gempa Lombok 7 sr. Foto: Ricko Rullyarto) Siang yang terik menjelang pukul 14.00 WITA. Di depan Gedung Bupati Lombok Utara yang hampir rubuh. Sehari setelah gempa berkekuatan 7 sr (5/8), seorang Ibu paruh baya, Fajariah, tengah menyuapi anak lelakinya Muhammad Jaelani (4) yang tampak bersemangat menyantap satu cup pop mie. Sekilas mereka tampak biasa saja, kalau saja orang-orang tidak melihat langsung ke arah mata mereka. Mata mereka tampak merah sembab, masih menyimpan luka dan duka. Tak lama buk Fajar, panggilan akrabnya, bercerita dengan suara serak menahan tangis bahwa Gempa berkekuatan 7 skala richter yang mengguncang Lombok kemarin, merenggut nyawa anak sulungnya Deni Irawan (17). Saat gempa berlangsung, Bu Fajar bersama suami, dua anaknya, tengah menonton TV di ruang keluarga. Sementara si sulung tengah mengaji di surau bersama teman-temannya. ...