Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah prolog: Anak Anjing

Orang-orang di kampungku memanggilku dengan panggilan “anak anjing”. Bukan! Bukan karena kedua orang tuaku adalah anjing. Meski mereka bahkan terkadang tak mampu menyediakan makanan yang layak untukku dan adik-adikku, tapi sungguh mereka adalah orang tua yang baik budi pekertinya. Bukan pula karena rupaku yang mirip anjing sehingga nama panggilan itu melekat padaku. Aku tak yakin, tapi setidaknya tidak hanya cermin yang berkata aku cukup rupawan untuk dikatakan mirip anjing. “Jangan!!! Anjing itu bisa mati!” Ini sudah 20 tahun setelah kejadian itu tapi aku seakan masih bisa mendengar teriakan cemprengku di tengah hujan lebat saat itu, yang bahkan tidak membuat anak-anak itu—yang dulunya ku anggap “teman”__ beranjak sedikitpun dari tempatnya, masih dengan batu di genggaman mereka masing-masing. Sementara anjing kampung dengan kaki hampir putus dan koreng dimana-mana itu beringsut menggelung di sisi undakan batu. Matanya takut-takut berkedip. Lemah. Seakan melihat izrail...

Di Balik Kartu Post dari Istanbul

Hari ini aku dapet kartu post Instanbul dari weddingnya kak fatma sama kak Tony (baca souvenir) walaupun jumat tempo hari batal ikut acaranya :D hahaha sekilas menurutku ga ada yang menarik dari kartu post ini, walaupun emang dibawa langsung dari Instanbul sana. Tapi kan tetep aja aku bisa googling liat fhoto-fhoto Turky. Kan yang ‘moto’ juga di turki sana. Tapi tapi, tunggu dulu… di baliknya ternyata ada puisi!!! :O Trus kalo ada puisi kenapa?   Biasa aja keles .... Eits tapi justru karena dua puisi yang ada di balik kartu post ini yang buat aku melek trus jari-jari jadi gatel buat tulisan kaya’ gini lagi, setelah sekian lama tenggelem dalam naskah yang tak kunjung kelar (dikelarin tepatnya) T.T *curcol mbak .… Well, ini dia dua puisi si biang kerok itu …. (Perhatian! Disarankan baca waktu sendirian, duduk deket jendela sambil liatin bintang gemintang #eaaaaaaaaaaaa) Puisi yang pertama….   akulah Si Telaga berlayarlah di atasnya berlayarlah m...

Aku, Kau, dan Seharusnya

... Seharusnya kita hidup bersama, dari waktu ke waktu… Seperti dari biji, kecambah, lalu tunas kecil, sampai pohonnya …. Seharusnya hari-hari kita akan sama, dari satu sumber kehidupan… Lihat saja akar, batang, ranting, daun, hingga buah … Tapi kita terpisah! Terpisah seperti jati yang memangkas sendiri daunnya Atau seperti bonsai yang sengaja dipangkas? Entahlah! Aku tau meski aku berteriak atau menjerit bertanya Kau tak akan menjawab Entah enggan, entah sungkan selama ini kau selalu bungkam …. Tapi kau tak perlu gusar, Karena aku akan selalu diam, meski  kau tertelan seharusnya… Novita Hidaya, 1 Maret, 2014 As far as the aisle of this feeling

"We" versus "Time"

"We" versus "Time"   “...Karena hidup itu bukan masalah “berapa umurnya?” Tapi “berapa banyak hal bermamfaat yang telah dilakukan sepanjang umur itu?”...  *** Pernahkah berfikir bahwa 24 jam dalam sehari   itu masih kurang? Beribadah, belajar, kerja, tidur, kumpul sama keluarga, kumpul sama temen-temen, ngelakuin hobby, ngerjain tugas... belum lagi waktu yang dipakai buat males-malesan, juga galau-galauan. Tik, sedetik, tok, dua detok... ehh malah udah 24 jam aja. Ngerasa dikibulin waktu. Pernah gak kira2 begitu? Apa malah justru sebaliknya, merasa 24 jam dalam sehari itu terlalu puanjang sampai-sampai tangan ini tiba-tiba gatel pengen gelindingin matahari kaya’ gelindingin bola boling, trus JRENG! Berharap hari berganti begitu saja. hahaha Saya rasa semua kita, pasti pernah merasakan keduanya. Merasakan point yang pertama ketika sedang sibuk-sibuknya. Dan merasakan point kedua ketika sedang menunggu. Duh tau sendiri deh rasanya bagaimana....

Keep dreaming!

how lucky i'm... because i was born in the beautiful island.. :) and i wish someday i could go around the world not only around my island.... aamiin :) keep dreaming! Novita Hidaya

Cerpen: "Pergi"

Pergi Setelah tujuh tahun lamanya, hari ini aku kembali dapat melihat kedua mata yang begitu teduh mendamaikan dan selalu berbinar itu lagi. Kedua mata itu kembali memporak-porandakan perasaanku, membuat seluruh persendianku terasa lemas, dan kembali melumpuhkan otak numerikku persis seperti tujuh tahun yang lalu. Tak ada sedikitpun yang berubah dari kedua mata itu, meski sekarang kau memilih mengecat rambut ikal panjangmu berwarna senada dengan kedua bola matamu yang hitam legam. Membuat gen ke-indonesiaanmu lebih terlihat. Selain dari itu tak ada yang berubah dari dirimu. Suaramu yang selalu terdengar ceria memanggil namaku, tinjuan yang tak pernah pelan ke pundakku hasil belajar bela diri kilatmu dulu, parfume lavender favoritmu, stelan jeans dan kaos putih kebanggaanmu, dan terutama kedua matamu dan cara memandangmu itu tak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Membuat perasaan yang selama hampir tujuh tahun terakhir ini dengan susah   payah berusaha ku enyahkan ...