Langsung ke konten utama

Postingan

Cerpen: "Kunang-kunang Kenangan"

Kunang-kunang Kenangan Ku tengadahkan tanganku layaknya seseorang yang sedang meminta, atau mungkin berdo’a. Tapi aku tak sedang melakukan keduanya. Seperti inilah posisiku beberapa tahun   yang lalu, ketika pertama kali dalam seumur hidupku, kau menghadiahiku seekor kunang-kunang. Tanganmu sendiri yang memindahkan serangga cantik itu ke dalam tangkupan kedua tanganku dengan sangat hati-hati. Lalu senyum hangatmu terkembang melihatku kegirangan norak seperti anak kecil memegang kunang-kunang pertamaku itu. Kau tak tau betapa bahagianya aku saat melihat kunang-kunang yang sebelumnya hanya dapat ku lihat di televisi   itu secara langsung. Dan kau tak pernah tau betapa aku lebih bahagia lagi karena kau ada disisiku saat itu. Aku tersentak dengan lamunanku sendiri, tersentak dengan tingkah anehku sendiri. Dan buru-buru menurunkan kedua tanganku yang tadi di dalam imajinasiku, aku mengulang kembali kejadian malam itu antara deretan bukit, aku,   kunang-kunang, dan...

Kita

KITA Kosong... Apa karena kita tidak berada dalam ruangan itu bersama? Atau karena memang aku yang sengaja memilih mengosongkannya? Bukannya aku lupa, tapi mungkin itu cinta yang mengambil alih separuh kesadaranku Atau itu memang aku dan egoku, aku tak bisa benar-benar dapat memahami   apa yang telah terjadi denganku, kamu, kita... Yang ku pahami Sejak awal aku tak pernah jelas Kau juga Kita tak pernah benar-benar jelas Dan ruangan itu yang hanya sekelebat cahaya, selebihnya gelap ... Lalu kubiarkan saja kau tetap dengan ketidak jelasanmu Dan aku dengan ketidak jelasanku ... Aku membiarkan kita melangkah terpisah bersama ketidak jelasan, menuju ke ruangan kosong itu Entah kita akan sampai atau tidak Mengisinya atau tidak, tak ada yang tau... Novita Hidaya, 20 th Sept 2013  

"PUSARAN"

Pusaran ... Aku terpenjara pada satu pusaran hitam Tak berdaya melawan putaran yang menjerumus itu Sesak! Aku menghirup anyir dosa yang pekat Aku terombang ambing pada satu titik ambigu yang mengerikan Aku tak mau melihat, mendengar, dan merasakannya lagi... Hanya, pusaran hitam itu tetap berputar pada satu titik di kepalaku... Aku terjatuh, dan bangkit lagi menyeimbangkan sisa-sisa kebisaanku Lalu waktu ikut hadir bersatu dengan ketidak berdayaan jiwaku Hampa... Jiwaku terhempas oleh pusaran yang berputar pada satu titik itu Lagi lagi dan lagi... Bosan! Meski telah berulang aku bangkit dan mencoba menyeimbangkan sisa-sisa kebisaanku Tapi aku masih tetap terpenjara dan jatuh pada pusaran yang sama... Novita Hidaya, July 2012

before sleeping

Terkadang aku merasakan mimpi-mimpi itu begitu dekat adanya Sedekat helaan nafas, seakan nyata akan hadirnya... Tapi terkadang, aku merasa mimpi-mimpi itu terbang terlalu tinggi. Hingga aku hanya bisa melihatnya dari sini di langit-Mu. Tapi, Bukankah aku sudah membuktikan beberapa darinya :) You're right Tink, i don't have to understand how it works. i just have to believe that one day they will come to me :) just sleep well to night, n' wake up with the beauty of belief tomorrow! ^^

Siapa saya? :(

Ada yang masih menanyakan hal itu? Tentu masih banyak, terlepas dari berapa usiamu sekarang. Mau masih teenager, twentager, atau thirtager, nah loh? Pelanggaran... ma’af saye tidak bermaksud memperkosa bahasa inggris . Hehe... Maksudnya mau usia kita masih belasan (remaja), dua puluhan, atau tiga puluhan sekalipun. Faktanya masih banyak yang belum benar-benar mengetahui apa sih potensi yang ada pada dirinya. Ya ma’lum saja, kita kan tidak hidup di dunianya Tinkerbell dimana ketika kita lahir kita sudah bisa mengetahui potensi yang ada pada diri kita. Karena kita umatNya yang senantiasa diminta untuk berusaha, maka kita harus berusaha mencarinya. Terus caranya bagaimana? Sebelum berusaha mencari potensi diri kita. Alangkah baiknya kita tau apa sih potensi diri itu? Jadi menurut Wikipedia Enksiklopedia Bebas : Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dip...

Sisterku yang cerewet

Tiba-tiba saja aku merindukannya. Aku merindukan sahabatku itu... Merindukan saat-saat bersama di islamic boarding school 3 tahun lalu. 3 tahun kita bersama dan 3 tahun pula kita berpisah. 3 tahun itu bukan waktu yg sbentar kan?? untuk sbuah kebersamaan dan perpisahan??? Dan sekarang aku merindukanmu... Sahbatku yang begitu cerewet. Apa kabar sekarang? Terakhir kau memberikanku kabar yg membuatku menangis semalaman, kau mengecewakanku, membuatku merasa bersalah karena tak mampu menjagamu... Kabar terakhir yg membuat hatiku berantakan. ummm sudahlah... Nasi memang sudah menjadi bubur,,tapi kau bisa jd bubur yg spesial.:) ku katakan itu berulang dan aku tak ingin membicarakan itu disini. Aku ingin membicarakan tentang kerinduanku padamu. Aku rindu saat menatap bintang bersama di aula "kabi dobleyu" atau melalui teras mushala "firdaus". Kau menyuruhku memilih satu bintang tapi setiap aku memilih, kau bilang bintang itu sudah ada yang pu...

Whatever just be your self!

Sore itu seperti biasa, aku menghadiri acara kajian rutin yang diadakan oleh sebuah organisasi nirlaba di kota tempat ku menuntut ilmu. Dan seperti biasa aku selalu mendapat bagian tempat duduk pada barisan terdepan, padahal itu bukan karna aku datang paling awal lho, hanya sebuah kebiasaan aneh audience yang kerap ku temui ketika mengikuti kajian serupa; "enggan duduk di barisan terdepan". Aku tak tau alasan tepatnya. Padahal menurutku duduk dibarisan terdepan itu adalah pilihan yang sangat menguntungkan dengan berbagai alasan yang tidak akan ku jelaskan disini. Kenapa? Karna aku akan membahas tentang sang pembicara yang menurutku lebih menarik untuk dibahas. Loh kok?! Emang ada apa sih dengan sang pembicara? Pertanyaan yang bagus! Hehe:p Sejak awal beliau membuka forum kajian sore itu, aku merasa mengenal gesture dan style beliau. Sangat tidak asing, karna setiap minggu malam aku melihat gesture dan style yang sama di televisi tapi dalam sosok yang berb...